Halo (name),

Karena kita sudah hampir mendekati garis finish, mari kita langsung lihat topik hari ini: telur. Indonesia adalah produsen telur terbesar ke-7 di seluruh dunia. Bahan pangan yang sangat digemari ini, bisa ditemukan di hampir setiap waktu makan. Mulai dari sarapan, makan siang, makan malam, bahkan hidangan pencuci mulut. Kadang-kadang kita dapat dengan mudah mengidentifikasinya, tapi saat telur dijadikan bahan pengikat yang seringkali ada di makanan manis dan dessert, akan lebih sulit mendeteksinya. Walaupun telur dipakai di mana-mana, bahan ini sebetulnya cukup mudah untuk disubstitusi.

Sebelum masuk ke informasi nutrisi dari telur itu sendiri, saya ingin berbicara mengenai aspek moral dari bahan ini. Ayam betina biasanya ditempatkan dalam kerangkeng sepanjang hidupnya; seringkali kerangkengnya begitu sempit sampai mereka tidak bisa bergerak. Terkadang bisa ada lebih dari 1 ayam yang hidup dalam 1 kerangkeng yang sempit itu. Sulit bagi siapapun yang hidup di kondisi seperti ini untuk menunjukkan perilaku yang normal, dan–, akibat stress–, seringkali menghasilkan perilaku kanibalisme. Selain itu, ayam jantan dinilai sebagai limbah dan tidak bernilai, sehingga biasanya antara dibuang ke tempat sampah atau digiling hidup-hidup saat masih berusia 1 hari. 

Terima kasih karena kamu sudah meluangkan waktu untuk mengikuti isu moralitas dari telur. Mendiskusikan penderitaan hewan memang bukan topik paling menyenangkan, jadi saya sangat mengapresiasi perhatianmu. 

Sekarang mari kita kembali ke nutrisi. Apakah kamu pernah berpikir apa sebetulnya telur itu? Banyak orang berpikir bahwa telur hanyalah ayam yang tidak lahir atau menetas. Untuk mengupas mitos tersebut, mari kita diskusikan siklus reproduksi manusia. Secara biologis, organ reproduktif wanita memiliki indung telur. Saat indung telur dari perempuan tidak terisi, akan terjadi pelepasan bulanan yang dinamakan siklus menstruasi. Sama halnya dengan telur. Telur yang beredar luas di pasaran saat ini sejatinya adalah indung telur yang tidak dibuahi. Itulah alasan mengapa ayam tidak tiba-tiba lahir di telur yang ada di supermarket atau pasar.

Telur seringkali disalah artikan sebagai makanan sehat karena kalorinya yang rendah. Ya, betul, telur kira-kira memiliki 75 kalori, tetapi lemaknya dapat mencapai 5 gram. Itu banyak sekali untuk kalori yang hanya serendah itu! Kira-kira 1.5 gram dari lemak itu adalah lemak jenuh, dan sebanyak hampir 200 mg nya adalah kolesterol. Ingat, makanan rendah kalori tidak berarti sehat.

Bukan itu saja, mengonsumsi telur membawa dampak signifikan bagi jejak karbon kita. Untuk memproduksi 12 butir telur kita ikut melepas karbon dioksida (CO2) sebanyak hampir 3 kg. Bandingkan dengan 1 kg tempe yang jejak karbonnya bahkan tidak mencapai 1 kg . Berbicara tentang tempe, tempe atau tahu orak-arik adalah salah satu substitusi yang paling baik jika kamu menyukai telur untuk sarapan. Dan untuk kamu yang menyukai pastry, mari lihat ilustrasi di bawah ini untuk melihat bagaimanakah kamu dapat mengganti penggunaan telur di kue favoritmu.

Sampai bertemu besok lagi di hari terakhir perjalanan kita! Seperti biasa, di bawah ini adalah resep-resep lezat yang bisa kamu coba untuk mengganti telur dengan alternatif berbasis nabati!

Vegan Omelette

Telur Vegan Orak Arik

IKUTI KAMI:

  • Instagram

DIDUKUNG OLEH: