PERTANYAAN UMUM

Apa itu veganisme?


Veganisme artinya adalah pola makan yang berkomitmen untuk tidak mengkonsumsi apapun yang berasal dari hewani: daging, ikan, susu dan produk turunannya, telur, dan madu. Pada awalnya, etos vegan hanya mencakup pola makan, tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi dan transparansi informasi, banyak orang yang sudah vegan secara pola makan, juga memperluas komitmennya untuk tidak mengkonsumsi bahan berbasis hewani di berbagai area lainnya seperti baju, jaket, ikat pinggang, sepatu, produk kebersihan, produk kecantikan, dan juga obat-obatan.




Mengapa orang mengikuti pola hidup vegan?


Orang dapat menjadi vegan karena berbagai alasan. Banyak orang yang melakukannya karena alasan kesehatan dan memang ini sangat didukung dengan banyak nya bukti ilmiah. Kedua adalah karena kecintaan terhadap bumi. Di tahun 2010, PBB sudah mengeluarkan pernyataan bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah peternakan hewan. Di tahun 2019 ini, konfirmasi dari pernyataan UN dikonfirmasi oleh salah satu kebakaran hutan Amazon terbesar dan terlama, yang setelah diselidiki ternyata disebabkan oleh pembukaan lahan kacang kedelai untuk pakan ternak. Daging hanya memberikan kurang dari 20% kalori dan menggunakan lebih dari 80% lahan agrikultur yang ada. Lahan yang ada tidak akan cukup untuk memberikan daging untuk 7 milyar orang di bumi.

Alasan ketiga adalah kecintaan terhadap binatang. Banyak orang yang menjadi vegan karena mengetahui apa yang terjadi di balik bilik tempat pemotongan hewan. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa binatang, termasuk ayam, sapi, domba, dan ikan, dapat merasakan penderitaan dan rasa sakit. Dan realitanya adalah, peternakan pabrik dimana pembudidayaan hewan di dalam bangunan dengan kepadatan tinggi menjadi sumber asal utama produk hewani yang beredar di pasaran, sangat kotor dan kejam. Tidak peduli seberapa manusiawi caranya, mengambil nyawa binatang yang masih ingin hidup, adalah sesuatu hal yang sulit. Walaupun vegan tidak berarti suci dan bebas dari dosa, adalah suatu fakta bahwa orang yang memutuskan untuk menjadi vegan secara sadar ingin melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan para binatang tersebut.
Jika ada cara dimana kita bisa menjadi sehat, mengurangi jejak karbon, membantu bumi dan juga para mahluk hidup lain, tidak ada cara yang lebih baik daripada menjadi vegan. Pertanyaan yang mungkin lebih tepat adalah “Mengapa tidak?”




Apa bedanya vegetarian dan vegan?


Keduanya tidak mengkonsumsi protein hewani yang didapatkan dengan cara mengambil nyawa binatang. Tetapi vegetarian masih mengkonsumsi bahan berbasis hewani seperti susu, telur, dan madu.




Apa persamaan dari rasisme, seksisme, dan spesiesme?


Ketiganya adalah bentuk dari diskriminasi. Rasisme adalah diskriminasi ras. Seksisme adalah diskriminasi terhadap gender. Dan spesiesme adalah diskriminasi terhadap mahluk hidup lain yang bukan manusia. Ketiga ideologi ini membuat seseorang merasa berhak melakukan apapun yang dia inginkan walaupun di luar batas normal moralnya karena ia merasa lebih unggul dan superior. Veganisme percaya bahwa semua mahluk hidup mempunyai hak yang sama, maka dari itu veganisme adalah antitesis dari spesiesme.




Apakah sulit untuk menjadi vegan di Indonesia?


Menjadi vegan di Indonesia sangatlah mudah! Karena secara budaya, kita sudah memiliki banyak resep yang kaya akan rempah dan bahan-bahan berbasis nabati. Selain itu, kita banyak sekali pilihan protein nabati seperti tempe, tahu, kacang-kacangan, dan berbagai produk olahan kedelai dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan protein hewan. Di negara lain yang baru memulai tren protein nabati, harga produknya bisa sama dengan protein hewani. Maka dari itu bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia.

Jika anda bukan tipe yang membuat makanan sendiri, tidak perlu khawatir. Baik itu warung makan, jajanan pasar, dan makanan jalanan, banyak sekali pilihan makanan bagi kita yang sudah memilih pola hidup vegan.




Secara kesehatan, apakah memungkinkan untuk saya langsung mengubah pola makan saya menjadi 100% berbasis nabati ataukah sebaiknya dilakukan secara bertahap?


Setiap orang berbeda-beda. Banyak orang yang sukses dalam mengubah pola makannya langsung 100%. Tetapi untuk orang yang tadinya jarang atau tidak pernah makan bahan berbasis nabati seperti sayur dan karbohidrat kompleks, atau memiliki masalah pencernaan kronis, seperti GERD, Diare, perut mudah bergas, kolitis, disarankan untuk melakukannya secara bertahap. Orang yang mempunyai masalah pencernaan membutuhkan penyesuaian lebih lama karena bakteri di dalam usus yang seharusnya dapat mencerna serat sudah mengalami penurunan populasi cukup signifikan, sehingga mengembalikan mereka membutuhkan waktu dan proses. Jika secara konsisten mengkonsumsi bahan berbasis nabati yang beragam, dalam waktu 4-8 minggu, bakteri pencerna serat di dalam usus dapat kembali pulih dan sehat.




Apakah ada buku atau buku masak yang bisa saya baca mengenai topik ini?


Ini adalah beberapa buku yang mempromosikan pola makan berbasis nabati utuh (whole-food, vegan) yang kami rekomendasikan: How Not To Die dari Dr. Michael Greger How to Go Vegan dari Veganuary Forks Over Knives dari Gene Stone The China Study dari Dr. T. Colin Campbell Becoming Vegan dari Dr. Vesanto Melina dan Brenda Davis Ini adalah beberapa buku psikologi dan komunikasi yang kami sangat rekomendasikan sebagai vegan: Eating Animals dari Jonathan Safran Foer Why We Love Dogs, Eat Pigs, and Wear Cows dari Dr. Melanie Joy Striking at the Roots: A Practical Guide to Animal Activism dari Mark Hawthorne Beyond Beliefs: A Guide to Improving Relationships and Communication for Vegans, Vegetarians, and Meat Eaters dari Dr. Melanie Joy Dan ini adalah beberapa buku masak yang kami rekomendasikan: Forks Over Knives: The Cookbook dari Del Sroufe Vegan Street Food: Foodie travels from India to Indonesia dari Jackie Kearney Vegan Richa’s Indian Kitchen dari Richa Hingle The Chinese Vegan Kitchen dari Donna Klein Rawsome Vegan Baking dari Emily von Euw Vegan Cookies Invade Your Cookie Jar dari Isa Chandra Moskowitz




Apakah ada film yang bisa saya tonton mengenai topik ini?


Ada banyak pilihan! Ini adalah beberapa yang wajib kamu tonton: Cowspiracy What The Health The Game Changers Earthlings Okja Forks Over Knives Carnage Racing Extinction




Saat saya membeli makanan yang sudah diproses, bagaimana cara saya bisa mengetahui bahwa suatu makanan betul-betul vegan?


Jika ada, baca label makanannya. Ada banyak bahan tersembunyi yang tidak vegan, seperti casein, gelatin, whey, bone char, L. Cysteine, Carmine, Lactic acid, dan masih banyak lagi. Untuk memudahkan anda juga dapat melihat list lengkapnya disini
https://www.vrg.org › ingredients
Karena sumber bahasa Indonesianya belum terlalu banyak, cara termudah untuk mengetahuinya adalah bertanya ke mesin pencari Google dengan bahasa inggris “Is this (bahan yang ingin ditanyakan) vegan?”




Apakah saya bisa menjadi vegan jika mempunyai alergi terhadap makanan?


Tentu saja. Banyak orang menjadi vegan walaupun mereka ada alergi atau sensitivitas terhadap makanan seperti kacang dan kedelai. Menghindari bahan ini sebagai vegan ataupun omnivora tidak terlalu berbeda kesulitannya karena ada berbagai alternatif makanan vegan yang tersedia, baik di supermarket, pasar, ataupun restoran.




Seberapa mudahkah untuk mencari makanan vegan di restoran?


Di Indonesia sama sekali tidak sulit untuk mencari makanan vegan. Banyak kuliner nusantara yang sebetulnya tanpa kita sadari sudah masuk dalam kategori vegan seperti karedok dan kupat tahu. Dengan banyaknya restoran dari berbagai negara, sebetulnya pilihan menu vegan menjadi semakin banyak. Semakin kamu mengetahui menu vegan dari berbagai kuliner tersebut, mencari makanan di restoran atau warung makan akan menjadi mudah dalam waktu cepat.




Apakah pola hidup vegan mahal?


Pola makan vegan sama sekali tidak mahal. Berbagai makanan utuh berbasis nabati yang sehat seperti beras, ubi, kacang-kacangan, buah, sayuran, dan bumbu-bumbu sangat terjangkau karena ini adalah bahan lokal Indonesia yang tersedia sepanjang tahun. Untuk beberapa produk alternatif, seperti vegan sausage, veggie burger, dan vegan cheese memang dapat lebih mahal. Produk olahan seperti ini sifatnya rekreasional dan sama sekali tidak diharuskan di pola makan vegan yang sehat. Beberapa dari produk yang harganya masih tinggi ini juga perlahan sudah mulai turun harganya karena permintaan dari masyarakat sudah lebih banyak, banyak produsen yang bermunculan sehingga harga pun bisa turun. Alternatif lain seperti susu kacang dan yogurt nabati sudah termasuk menjadi murah. Diingat juga saat kita mencari makan di Indonesia, menu vegan biasanya akan lebih murah dibandingkan menu lainnya.




Apakah ada kesulitan dalam menjadi vegan?


Bagi sebagian besar dari kita, hal paling sulit dalam menjadi vegan adalah tekanan sosial. Banyak orang yang kesulitan menghadapi keluarga, teman, dan kolega yang tidak mengerti tentang faktor moral dari pola hidup vegan dan bahkan mencoba mendemotivasi dan mengolok. Biasanya, mereka melakukan ini karena mendengar banyak mitos dan cerita negatif mengenai pola makan vegan. Cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk menetralkan penentangan dari lingkaran sosial kita adalah belajar dan melakukan riset sendiri. Mempelajari subjek ini dari berbagai perspektif akan memberikan kita kepercayaan diri saat kita mempertahankan opini dan pendirian kita mengenai pola hidup vegan. Pelajari sebanyak mungkin tentang kesehatan seperti protein, vitamin B-12, Omega-3, dan zat besi, karena kesehatan adalah topik pertama yang akan dipilih untuk menjadi medan perang oleh banyak orang Indonesia. Vegan juga seringkali dapat juga mendapatkan perilaku diskriminasi dari sekitarnya. Terutama di media digital dan media sosial. Bersosialisasi dan membentuk komunitas dengan para vegan dan orang-orang yang mempunyai nilai yang sama walaupun belum vegan, seperti pencinta lingkungan atau pencinta binatang, adalah cara terbaik untuk tidak merasa terasing. Ada beberapa vegan club, vegan meetup ataupun vegan festival, ingatlah pasti ada vegan dimanapun kamu berada!




Bagaimana dengan tradisi seperti Idul Adha dan Natal?


Di dalam budaya Indonesia, daging dan protein hewani seringkali juga menjadi pusat dari aktivitas sosial. Tidak memakan daging berarti dianggap tidak menghormati budaya negeri kita. Seringkali ini dapat menjadi pemicu konflik di meja makan, dan akan diperparah terutama jika orang yang vegan tidak peka terhadap budaya dan malah menunjukkan perilaku agresif terhadap orang yang masih mengkonsumsi daging dan protein hewani. Ingatlah, perilaku agresif justru akan menjauhkan orang dari pola hidup vegan. Percayalah, walaupun tidak instan, budaya dengan sendirinya dapat berubah. Pada prinsipnya, tradisi dari budaya seperti Idul Fitri ataupun Natal adalah berkumpul dengan keluarga dan kerabat, bukan mengenai makanannya. Atau Idul Adha, walaupun lekat tradisinya dengan pengurbanan hewan karena di jaman dulu daging dianggap berharga, sebetulnya esensi utamanya adalah orang yang mampu membantu yang tidak mampu. Pada jaman sekarang, definisi sesuatu yang berharga itu bisa bermacam-macam, sebagai contoh memberikan sedekah dalam bentuk uang ataupun membantu membayar uang sekolah anak yatim piatu, dan lain-lain. Sangat memungkinkan untuk merayakan tradisi ini tanpa harus mengeksploitasi mahluk hidup yang lain.




Apa yang perlu diketahui vegan tentang nutrisi?


Menjadi vegan dapat membawa banyak efek kesehatan! Tetapi seperti halnya pola makan manapun, akan lebih optimal jika kita dapat melakukan perencanaan. Bukan karena sulit, tetapi karena kenyataannya tidak selalu intuitif, contoh: vegan yang memakan hanya salad berisi hijau daun, tomat dan timun tentu saja akan sulit mencukupi kebutuhan protein nya. Hal yang paling penting yang harus diketahui adalah dengan mencukupi kebutuhan kalori harian, kurang lebih 1800 - 2000 kalori per hari, sebagian besar makro dan mikro nutrisi akan terpenuhi. Tapi kalori tersebut harus didapat dari bahan utuh, bukan proses. Contoh: kentang dengan metode sup dan tumis, bukan keripik kentang yang penuh MSG, garam dan pengawet. Pisang utuh atau bakar, bukan pisang goreng coklat. Dan sebagainya. Seperti halnya pemakan daging harus khawatir terhadap level kolesterol dan profil lemaknya, ada beberapa nutrisi dan penanda tubuh yang harus kita pantau sebagai vegan dan bagaimana mendapatkannya di sumber nabati: Kalsium (polong-polongan dan sayuran hijau daun) Zat besi (sayur hijau daun, beras merah, kacang hijau & merah, kedelai, kacang tanah dikonsumsi bersama makanan tinggi vitamin C) Zinc (kedelai dan biji-bijian seperti tempe, edamame, biji labu, biji bunga matahari) Vitamin A (sayur berwarna oranye dan hijau daun) Lemak omega-3 (minyak biji rami (flax oil), biji chia, kacang merah dan hijau, tempe, brokoli, kembang kol, dan walnut) Vitamin B12 (tempe, aloevera) Vitamin D Iodine (rumput laut) Di pola makan modern, nutrisi di atas ini terasosiasi dengan protein hewani. Sebetulnya, nutrisi di atas selain vitamin B12 dan vitamin D dapat ditemukan di berbagai sumber nabati. Sumber vitamin B12 terbaik bukan dari hewani, melainkan dari supplement. Dan sumber vitamin D terbaik juga bukan dari hewani, melainkan sinar matahari.




Apakah vegan mendapatkan cukup protein? Jika iya, dimana protein itu bisa didapatkan?


Protein dapat didapatkan dari banyak sekali sumber nabati seperti tempe, tahu, jamur, kacang polong, kacang hijau, kacang arab, kacang tanah, brokoli, beras merah, dan bahkan masih banyak lagi. Pertanyaan lebih tepat adalah “Dari manakah kita tidak mendapatkan protein?” Karena sebetulnya semua bahan makanan mengandung protein. Di supermarket, cobalah cari label makanan yang menunjukkan 0 protein. Promosi dari industri peternakan hewan sangat sukses dalam menanamkan keharusan memakan protein hewani untuk protein dan energi. Padahal keduanya hanyalah mitos. Betul kita membutuhkan protein, tapi bukan untuk energi, dan protein dapat didapatkan dari berbagai sumber lain selain daging. Kita dapat cukup mendapatkannya dari berbagai beras, roti gandum, kacang-kacangan, jagung, produk kedelai, polong-polongan dan sebagainya, asalkan kita mencukupi kebutuhan kalori harian kita. Banyak atlit, terutama yang jenisnya ultra endurance seperti Triathlon, dan berkompetisi di level tertinggi adalah vegan. Berbagai hewan terkuat di dunia seperti gajah, kuda nil adalah vegan. Berbagai jenis dinosaurus terbesar juga herbivora. Banteng, gorilla, kuda, badak tidak membutuhkan daging untuk otot dan kekuatan mereka.




Bukannya manusia alaminya diciptakan untuk mengkonsumsi hewan?


Walaupun nenek moyang kita memakan dari jaman dulu mengkonsumsi protein hewani, dari penelitian yang ada manusia terbukti lebih banyak mengkonsumsi bahan berbasis nabati. Dan menariknya secara anatomi, organ tubuh manusia lebih mirip dengan organ herbivora. Karnivora

  • Dapat membuat vitamin C sendiri
  • Berkeringat melalui lidah
  • Terlahir dengan gigi
  • Rahang hanya bisa bergerak atas bawah
  • Menyobek dan menelan
  • Tidak bisa terjadi penyumbatan kolesterol dan lemak di dalam pembuluh darah
  • Usus halus dan besar yang pendek (3x tinggi/panjang tubuh)
Herbivora
  • Vitamin C didapat dari buah sayur
  • Berkeringat melalui kulit
  • Terlahir tanpa gigi
  • Rahang bisa bergerak atas bawah dan menyamping
  • Mengunyah
  • Bisa terjadi penyumbatan kolesterol dan lemak di dalam pembuluh darah
  • Usus halus dan besar yang panjang (12x tinggi/panjang tubuh)
Dengan anatomi seperti ini, sudah dibuktikan oleh para peneliti kalau kita lebih banyak mengkonsumsi tumbuhan. Tetapi, kita sebagai manusia beradaptasi dan berevolusi. Salah satunya adalah manusia dapat beradaptasi untuk memakan daging. Alasannya di jaman purba saat makanan masih sulit ditemukan, protein hewani seperti daging padat memang kalori dan juga memiliki nutrisi di dalamnya. Tetapi jaman sudah berubah. Dengan perkembangan zaman seperti ini, kita tidak harus memakan daging untuk mendapatkan nutrisi dan kalori. Justru faktanya, populasi yang mengkonsumsi daging dalam jumlah besar memiliki faktor resiko kanker, stroke, dan kardiovaskular lebih tinggi. Kita dapat mencukupi semua kebutuhan kita melalui bahan bahan berbasis nabati dan suplemen yang secukupnya.




Bagaimana cara vegan mencukupi kebutuhan vitamin B-12 nya?


Cara termudah dan paling efektif adalah dengan menggunakan suplemen. Vitamin B12 dalam bentuk cyanocobalamin dan methylcobalamin adalah yang paling banyak dipakai. Selain suplemen, vitamin B12 juga dapat ditemukan di tempe (tapi jumlah tidak menentu tergantung produsen dan seberapa alami cara pembuatannya), Nutritional Yeast, dan makanan atau minuman yang difortifikasi seperti susu kacang kedelai.




Apakah betul kedelai tidak sehat dan meningkatkan estrogen dan resiko kanker?


Tidak betul. Kedelai mempunyai phytoestrogen yang justru bersifat protektif dan menurunkan resiko kanker. Banyak penelitian yang sudah mencoba membuktikan hal ini, termasuk Harvard Medical School, dan yang mereka temukan adalah kedelai mempunyai efek netral atau bermanfaat terhadap kesehatan terutama jika bahan ini menjadi pengganti daging merah. Tapi ada syaratnya. Produk kedelai seperti tahu, tempe, miso, edamame, 2 - 5 porsi atau setara dengan 200 - 500 gram setiap hari terbukti aman dan sehat. Produk bubuk protein kedelai, walaupun lebih sehat dibandingkan bubuk protein whey (susu), tetap tidak membawa efek kesehatan yang sama karena termasuk makanan proses.




Bagaimana mekanisme pola makan vegan mengurangi resiko kesehatan dari perspektif kesehatan publik?


Berbagai studi dengan jumlah besar, seperti Adventist Health Study, Nurses’ Health Study yang membandingkan pola makan omnivora dan vegan menunjukkan secara konsisten menunjukkan bahwa grup yang mengkonsumsi makanan 100% berbasis nabati mengalami penurunan berbagai resiko kesehatan.. Bahkan jika kita lihat 5 penyebab kematian utama di Indonesia; Stroke, Kardiovaskular, Diabetes, Gagal ginjal, dan Hipertensi, semua penyakit ini bisa dicegah bahkan di banyak kasus disembuhkan total melalui pola makan berbasis nabati. Tetapi selain itu, orang-orang yang mengkonsumsi buah dan sayur minimum 5 porsi sehari memiliki daya tahan tubuh sampai dengan 60% lebih tinggi, dan juga kesehatan emosional sampai dengan 40% lebih baik. Jadi yang akan terjadi jika semakin banyak orang mengikuti pola makan vegan, kesehatan publik dan kualitas hidup akan jauh meningkat. Karena daya tahan tubuh naik, orang-orang akan menjadi lebih jarang sakit sehingga baik untuk produktivitas, baik dari individu maupun perusahaannya. Dan juga karena angka penyakit kronis turun, beban negara untuk subsidi kesehatan juga akan berkurang sehingga dana tersebut dapat dialokasikan untuk pembangunan negara atau sumber daya manusia yang lain.




Saya pernah mendengar bahwa vegan tidak cocok untuk anak dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, dan atlit. Apakah ini betul?


Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika, Kanada, dan Inggris, salah satu institusi terbesar yang meneliti tentang Nutrisi manusia, sudah memberikan pernyataan bahwa nutrisi berbasis nabati atau vegetarian yang direncanakan dengan baik dapat memenuhi kebutuhan manusia di semua tahapan kehidupan, termasuk pertumbuhan anak, ibu hamil dan menyusui, dan bahkan atlit. Untuk mencukupi semua kebutuhan nutrisi, pola makannya tidak perlu sulit. Kamu hanya perlu memastikan kalorinya cukup dan memakan berbagai grup makanan dari buah, sayur, kacang, berbagai karbohidrat kompleks dan juga suplemen vitamin B12, Omega 3 (Minyak biji rami atau minyak dari rumput laut).




Bagaimana jika obat yang saya minum sekarang ada unsur hewani nya?


Diskusikan dengan dokter tentang kekhawatiranmu; jangan langsung berhenti mendadak. Kita tinggal di dunia yang tidak vegan dan kamu dapat membantu lebih banyak hal jika kamu dalam kondisi sehat.




Apakah peternakan hewan berdampak buruk pada lingkungan?


  • Pada tahun 2010, setelah melakukan banyak laporan independen mengenai pemanasan global, UN atau PBB mengeluarkan pernyataan bahwa penyebab #1 dari climate change adalah Animal agriculture atau peternakan hewan.




Bagaimana mekanisme peternakan hewan bisa merusak lingkungan?


Mekanismenya ada beberapa. Yang pertama dari lahan. Tidak, bukan untuk tempat mereka tinggal tetapi lahan untuk menanam makanan mereka. Di jaman modern ini, hewan ternak tidak lagi memakan rumput tetapi mereka mengkonsumsi biji-bijian tinggi protein seperti kedelai, jagung, gandum, dan sebagainya. 45% dari total produksi biji-bijian global bukan untuk manusia, melainkan untuk ternak. Akan tetapi lahan ini sangatlah terbatas. Dilansir oleh CNN dan National Geographic, kebakaran besar di Amazon pada bulan Agustus 2019 terbukti disebabkan oleh industri peternakan hewan Brazil. 45% dari total produksi ini jika dijadikan makanan untuk manusia dapat mencukupi kebutuhan lebih dari 1 milyar orang, secara teori dapat langsung menjadi solusi untuk isu kelaparan dunia. Lalu, air. Rata-rata konsumsi air per 1 jenis ternak besar adalah 30 liter per hari. Untuk mendapat gambaran seberapa intensifnya, analoginya adalah untuk membuat 1 burger daging dengan 2 patty membutuhkan lebih dari 1000 liter air. Itu lebih dari jumlah air mandi yang dipakai setiap hari selama 2 bulan. Karena hewan-hewan tersebut juga diberikan berbagai macam antibiotik dan hormon pertumbuhan, maka dari urine dan pembuangan, mereka pun mengandung senyawa tersebut. Sungai yang berhubungan langsung dengan banyak peternakan hewan di Amerika menjadi “zona mati” karena sangat tercemar dan beracun untuk mahluk hidup yang tinggal di air. Ketiga, dari gas methane. Gas metana adalah gas efek rumah kaca yang mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan CO2. Hewan pemakan rumput seperti sapi dan domba dapat memproduksi gas metana rata-rata 100 kg per tahun, yang efeknya sama dengan melepas 7,200 kg CO2 ke udara. Bayangkan.. 7,200 kg! Umur aktif gas ini di atmosfir, artinya kemampuannya dalam menyerap hawa panas, adalah 20 tahun. Itulah 3 harga yang tidak terlihat dan fakta yang selalu ditutupi oleh peternakan hewan.




Jika semua orang menjadi vegan, bukankah banyak orang yang akan kehilangan pekerjaannya?


Setiap perubahan besar dan revolusi akan menghilangkan pekerjaan. Tetapi perubahan juga menciptakan peluang yang baru. Perpindahan dari pos surat ke email menghilangkan banyak pekerjaan untuk tukang pos, tetapi menciptakan lapangan kerja baru untuk Teknologi Informasi. Jika kita semua menjadi vegan, peternakan hewan dan segala karyawannya akan menghilang dan dokter spesialis jantung juga akan berkurang jam kerjanya dan mungkin bahkan dapat kehilangan pekerjaannya. Tetapi di sisi lain, industri buah, sayur, dan pertanian akan berkembang pesat sehingga menciptakan lapangan kerja baru dan bidang kesehatan yang lain pun akan muncul menggantikan pekerjaan yang sudah tidak relevan. Semua perusahaan dan pekerja harus beradaptasi, apalagi dengan terjadinya perubahan zaman. Tidak ada alasan bagi siapapun juga untuk melindungi industri peternakan hewan dari perubahan tersebut.




Jika semua orang menjadi vegan, bukankah akan terjadi ledakan populasi hewan?


Hewan yang kita makan, pakai, dan eksploitasi secara sengaja dibiakkan dan dilahirkan untuk mencapai angka permintaan dari konsumen, dengan cara yang jauh dari alami. Jika angka permintaan menurun, jumlah binatang yang akan dibawa ke dunia ini juga akan ikut berkurang. Tidak ada masalah dengan populasi dari sapi, ayam sebelum manusia mulai membuat mereka menjadi komoditas. Mereka tidak akan bisa membuat ledakan populasi dengan sendirinya karena ada hukum alam yang berlaku. Jadi, jika kita dapat menghentikan proses pembiakkan yang tidak alami, cepat atau lambat semua hal akan kembali kepada titik keseimbangan.




Binatang membunuh binatang yang lain untuk hidup. Jadi apa masalahnya jika manusia melakukan yang sama?


Satu poin penting adalah hewan karnivora membunuh hewan lain untuk hidup. Kita sebagai manusia di jaman modern tidak perlu mengkonsumsi hewan untuk hidup. Saat kita membunuh hewan hanya untuk kenikmatan indera perasa kita padahal kita tahu itu tidak perlu, kita sebagai manusia yang bermoral seharusnya menghindari itu, karena hal tersebut menyebabkan penderitaan. Kita tidak seharusnya membentuk moral sebagai manusia dari apa yang dilakukan binatang di habitatnya. Singa akan memakan anaknya jika mereka tidak mendapat makanan, dan juga secara paksa menghamili betina. Anjing mencium dan berkenalan dengan mencium bokong satu sama lain, saat pertama kali bertemu. Jika kita menjadikan perilaku hewan sebagai landasan moral manusia, kita akan melegalkan pembunuhan, pemerkosaan, perang dan berbagai perilaku tidak etis lainnya yang terjadi di alam.




Bukankah Tuhan memberikan hewan untuk kita makan?


Tidak ada agama yang mengharuskan umatnya untuk menjadi taat dengan memakan daging, baik dari Muslim, Kristen, Hindu, ataupun Buddha. Maka dari itu, kita dapat menjadi vegan tetapi juga beriman di saat bersamaan. Sama seperti gaya hidup modern yang lain yang mungkin tertulis di kitab suci tapi juga tidak dilarang, seperti mendaur ulang sampah, dan lainnya. Lagipula, coba pikirkan.. mengapa Tuhan yang baik dan bijak memberikan reseptor rasa sakit kepada hewan dan mengharuskan kita untuk menyakiti mereka? Pastinya, Tuhan dapat menerima keputusan kita untuk menjadi vegan, karena dengan begitu kita akan mengurangi penderitaan binatang dan lingkungan, yang mana keduanya adalah ciptaan Tuhan.




Hewan tidak bisa disamakan dengan manusia. Walau bagaimana pun, kita mahluk yang lebih superior.


Betul di banyak hal, manusia adalah mahluk yang lebih cerdas. Tapi kita tidak lebih hebat jika kita diminta untuk melihat dalam gelap atau mengepakkan sayap untuk terbang. Bukan hanya dengan hewan, bahkan jika kita membandingkan contohnya orang normal dengan orang autis, pasti yang normal akan lebih cerdas, cepat, kuat, tampan, dan lainnya. Dengan logika seperti ini, manusia yang lebih kuat secara teori dapat menindas yang lebih lemah. Tetapi kita tahu, menjadi lebih hebat di suatu hal tidak berarti memberikan seseorang hak untuk menindas manusia, dan termasuk juga binatang. Cara berpikir seperti inilah yang membuat banyak kekejaman di masa lalu, seperti pembantaian Yahudi di kamp konsentrasi, rasisme dan pembantaian etnis tionghoa di Indonesia, perbudakan dan perdagangan kaum negro dan Indian di Amerika, dan pembantaian kaum aborigin di Australia. Tentu saja, tidak ada yang meminta hewan untuk memiliki hak yang sama dengan manusia, seperti hak untuk memilih, karena itu tidak masuk akal. Tapi yang masuk akal adalah, memberikan mereka hak untuk hidup karena mereka adalah mahluk hidup yang dapat merasakan rasa sakit dan mempunyai emosi, maka dari itu mereka mempunyai keinginan hidup, sama seperti kita manusia.




Bagaimana jika penyembelihan hewannya dilakukan secara manusiawi?


Kita mampu, secara teori, untuk membunuh hewan tanpa rasa sakit (walaupun itu sangat sulit dilakukan untuk memberi makan 7 milyar orang). Walaupun mungkin, hal ini tetap tidak membuat tindakan membunuh menjadi bisa diterima secara moral. Membunuh dan mengambil hak hewan untuk hidup, hanya karena kita senang “rasanya” padahal kita tidak memerlukannya, adalah sesuatu yang salah. Definisi dari kata manusiawi sendiri adalah menunjukkan kemampuan untuk menunjukkan empati, kasih sayang, dan berbuat kebajikan saat kita diberikan kesempatan melakukan itu. Maka dari itu, tidak ada yang dinamakan dengan pembunuhan manusiawi. Seperti sama halnya dengan tidak adanya “pemerkosaan manusiawi” atau “penembakan manusiawi”. Tidak ada orang yang manusiawi ingin mengambil nyawa dari hewan jika kita tidak membutuhkannya.




Bukannya industri telur tidak melukai mahluk hidup?


Di industri telur, hanya ayam betina yang mempunyai nilai. Jadi di tempat penetasan, jantan dan betina langsung dipisah dan mereka melalui conveyor belt / ban berjalan. Ayam jantan dianggap tidak mempunyai nilai, jadi ada 3 standar yang biasa dilakukan: dimasukkan langsung ke mesin penggiling hidup-hidup, ditenggelamkan atau dibuang ke tempat sampah. Ayam betina biasanya dipotong paruhnya dan akan dikirim ke peternakan, dimana setiap ekor akan diminta untuk mengeluarkan lebih dari 300 telur per tahun, yang menjadi mungkin karena manipulasi genetik (bandingkan dengan ayam liar yang hanya mengeluarkan 20 butir per tahun). Ini adalah proses yang terjadi di semua peternakan, baik itu free-range, organik, telur kampung atau manapun. Setelah ayam berhenti bertelur secara konsisten, mereka akan dikirim untuk dipotong, dan prosesnya mereka akan dimasukkan ke dalam air listrik supaya tidak sadar, kemudian kakinya akan digantung supaya kepalanya ada di bawah, dan akan dijalankan di conveyor belt supaya leher mereka dapat dipotong. Banyak ayam yang akan tetap sadar bahkan saat leher mereka sudah terpotong dan untuk menutup semua itu, mereka akan direbus hidup-hidup supaya bulunya dapat lebih mudah rontok. Pemotongan mereka terjadi di usia 2 tahun. Alamiahnya, ayam dapat hidup hingga usia 8 tahun.




Mengapa vegan ingin memaksakan orang lain mengubah perilaku makannya?


Faktanya adalah tidak ada orang yang suka diberitahu untuk mengubah kebiasaan mereka. Apalagi jika itu berhubungan dengan nilai moral. Tetapi meminta vegan untuk mengurus urusan mereka sendiri itu sama seperti meminta orang yang anti-rasisme atau anti-korupsi untuk tutup mulut dan mengurus hidup mereka sendiri. Vegan dan aktivis anti-rasisme sama-sama percaya bahwa yang kita lakukan adalah mencoba mengurangi penderitaan yang ada di bumi ini. Kita semua akan angkat suara - atau sadar kita seharusnya harus - jika kita melihat perilaku yang tidak benar secara moral. Masalahnya adalah banyak orang yang tidak sadar bahwa membunuh hewan untuk makanan, fashion, atau kosmetik itu bukan sesuatu yang tidak benar. Saat seseorang meminta vegan untuk mengurus dirinya sendiri, itu sama dengan meminta si vegan tersebut menerima bahwa pembunuhan hewan untuk kesenangan sensori manusia adalah sesuatu yang benar secara moral. Ini adalah cara dari banyak orang non-vegan untuk menghindari diskusi bahwa kenyataannya terjadi begitu banyak penderitaan di proses pembuatan makanan yang mendarat di piring mereka. Tentu saja, ada cara lain untuk mengantarkan pesan ini kepada orang yang belum vegan, karena semakin frontal cara memberitahunya, semakin orang defensif dan tidak nyaman, dan itu adalah hal yang tidak efektif. Tetapi, meminta vegan untuk mengurus urusannya sendiri itu sama dengan menyuruh menutup hati nuraninya.




Vegan itu adalah ekstrimis


Ekstrimis adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang sangat berbeda dari standar normal. Definisinya tidak berarti kekerasan, walaupun kata ini sering diasosiasikan dengan itu. Untuk vegan, kita dianggap ekstrim karena kita bukan hanya ingin mengurangi penderitaan hewan, tapi betul-betul ingin menghilangkannya. Dengan melabel kita sebagai ekstrimis, anda menaruh vegan di label yang sama dengan Abraham Lincoln, presiden ektrimis yang ingin menghilangkan semua perbudakan. Atau Mahatma Gandhi, orang India ekstrimis yang menghindari segala bentuk kekerasan untuk memerdekakan India dari Inggris. Atau para aktivis 98, ekstrimis yang ingin meminta keadilan demokrasi dan pemimpin negara yang tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme? Apakah kamu lebih memilih para aktivis 98 tersebut berdemo untuk meminta pemimpin pada jaman itu untuk cukup mengurangi porsi korupsi nya? Apakah kamu lebih memilih kami untuk mempermasalahkan 1 anjing yang disiksa dan mengabaikan nasib buruk para jutaan hewan ternak yang terkurung dimana mereka bergerak saja sulit? Pejuang hak asasi manusia, Martin Luther King, mengingatkan kita bahwa “Pertanyaannya bukanlah apakah kita akan menjadi ekstrimis atau tidak, tetapi ide ekstrimis seperti apa yang akan kita perjuangkan.” Maka dari itu, kami memilih untuk berjuang sepenuhnya. Karena kami mendambakan hari dimana tidak ada hewan, ikan, maupun burung yang harus disiksa dan dibunuh demi kesenangan sensori semata.




Bukankah pola makan adalah pilihan pribadi?


Pilihan pribadi, seharusnya hanya mempengaruhi individu yang melakukan pilihan tersebut. Contohnya memilih untuk naik kereta ke tempat kerja, atau memilih baju apa yang dipakai hari itu. Itu pilihan pribadi dan konsekuensinya hanya mempengaruhi individu tersebut. Lain halnya dengan mengkonsumsi protein hewani, ada mahluk hidup yang harus menderita untuk kepuasan indera perasa kita.




Moralitas itu subjektif. Hewan bukan untuk dimakan adalah opinimu. Orang lain punya opini lain.


Supporter ide moralitas yang subjektif tidak akan mentoleransi kesubjektifannya jika mereka yang menjadi korban. Jika seseorang membunuh orang lain, ataupun binatang dan betul-betul berpikir tidak ada yang salah dengan perilaku nya, maka aksi pembunuhan tersebut dianggap sesuatu yang sama sekali normal. Moralitas tidak bisa subjektif. Sebagai masyarakat kita harus mempunyai semacam pengukur objektifitas antara apa yang bisa disebut baik dan buruk. Jika ada di suatu masyarakat, menyiksa orang atau binatang demi hiburan adalah sesuatu yang lumrah dan disetujui bersama, apakah kamu mau untuk tinggal di tempat seperti itu? Menyiksa demi hiburan ataupun kesenangan semata secara moral bukanlah sesuatu yang baik. Yang veganisme lakukan hanyalah mengikuti prinsip ini.




Banyak isu yang lebih penting daripada vegan dan tidak makan hewan.


Menjadi vegan tidak berarti kita hanya peduli terhadap hewan. Garis besarnya adalah vegan ingin berkontribusi untuk mengurangi penderitaan di dunia, termasuk manusia. Kita tidak perlu menghabiskan waktu lebih banyak hanya karena kita menjadi vegan, waktu kita dapat di saat yang bersamaan dapat dipakai untuk berkontribusi ke banyak hal lainnya. Contohnya Leonardo Dicaprio, salah aktor Hollywood tersukses yang mempunyai organisasi untuk membantu isu kelaparan dunia, lingkungan, dan adalah seorang vegetarian. Serena Williams, mantan petenis wanita #1 dunia dan Beyonce, salah satu penyanyi wanita tersukses yang pernah ada, melawan keras diskriminasi gender dan ras melalui berbagai jenis media dan di saat yang bersamaan juga adalah seorang vegan. Atau Greta Thunberg, seorang wanita berumur 15 tahun yang menginspirasi jutaan orang dan ribuan gerakan “Climate Strike” di seluruh dunia menyuarakan isu lingkungan dan di saat yang bersamaan juga adalah seorang vegan. Dan masih banyak contoh lainnya. Dengan mendonasikan waktu kita untuk membuat orang tersadar terhadap kekejaman dan penyiksaan yang terjadi di industri peternakan hewan, kita juga di saat yang bersamaan membantu manusia. Karena saat seseorang akhirnya mengurangi bahkan menghilangkan unsur hewani dari pola makannya, angka kematian dan penyakit sangat menurun. Artinya orang tersebut juga lebih sehat. Bagaimana orang memilih apa yang dilakukan di waktunya adalah urusan masing-masing. Tetapi kita harus ingat, hewan tidak seberuntung itu. Mereka juga dapat menangis dan marah. Tetapi, karena tidak berbicara bahasa yang sama dengan manusia, mereka tidak dapat mengutarakan dan menolong diri mereka sendiri. Kita beruntung tidak perlu harus dikurung dalam jeruji yang sangat kecil, tidur di atas kotoran kita sendiri, ditransport puluhan kilometer tanpa air maupun makanan dengan kondisi yang mengenaskan, dan saat sampai di tempat jagal, disembelih atau harus melihat teman-temannya disembelih terlebih dahulu. Hal termudah yang bisa kita lakukan adalah berhenti mengkonsumsi hewan. Sekarang sudah banyak alternatifnya. Itu tidak akan menghabiskan waktu kita.




Apakah tumbuhan punya perasaan?


Tumbuhan tidak mempunyai pusat sistem syaraf (otak) dan maka dari itu tidak memiliki reseptor rasa sakit. Tetapi jika kamu betul-betul khawatir terhadap kesejahteraan tumbuhan, coba bayangkan hal ini: Untuk mendapatkan 1 kilogram daging, kita membutuhkan 16 kilogram bahan berbasis nabati. Bayangkan.. 1 dibanding 16! Salah satu penyebab terbesar dari pembabatan lahan hutan hujan tropis adalah untuk membuat lahan bagi hewan ternak. Jadi jika kamu betul khawatir akan kesejahteraan hewan, menjadi vegan justru akan sangat membantu. Para ilmuwan sudah mempelajari kemampuan tumbuhan dan kita tahu bahwa mereka dapat merasakan sensasi ataupun stimuli. Tumbuhan dapat merasakan ulat yang berjalan sehingga mereka memberikan senyawa berasa pahit ke daun tersebut supaya tidak dimakan habis oleh serangga. Mereka juga dapat berkomunikasi dan mentransfer senyawa obat antara satu sama lain menggunakan akar nya dan jaringan jamur bawah tanah. Dan berbagai hal lainnya. Sama seperti pada satu titik, banyak orang tidak menyadari bahwa gurita, hewan yang memiliki sistem syaraf yang sangat berbeda dari mahluk hidup lainnya ternyata sangat cerdas dan sensitif terhadap rasa sakit. Mungkin saja, tumbuhan mempunyai kesanggupan untuk merasa sakit yang manusia belum bisa deteksi. Mungkin di kemudian hari, kita akan menemukan bahwa ada cara dimana mereka bisa merasakan rasa sakit. Yang kita tahu pasti adalah, karena manusia harus hidup, dan untuk hidup manusia butuh makan, dengan menjadi vegan kita akan dapat mengurangi penderitaan bagi hewan dan juga tanaman. Hanya dengan menjadi vegan, kita secara langsung menyelamatkan kurang lebih 200 hewan ternak setiap tahun nya - mahluk hidup yang para peneliti dan kita tahu jelas sanggup untuk merasakan semua sensasi dan emosi yang manusia bisa rasakan. Kami sebagai vegan tidak bilang bahwa kami tidak melukai hewan sama sekali, contohnya tidak sengaja menginjak semut, atau dengan sengaja menepuk lalat yang terbang di meja makan karena menganggu, dan sebagainya. Jadi bukan tujuan kami untuk mengejar kesempurnaan. Tetapi yang pasti dengan memilih makanan vegan / berbasis nabati utuh, kami tahu ini adalah pilihan yang paling baik dan bijak karena lebih sedikit mahluk hidup lain yang menderita untuk supaya kami bisa terus hidup.




Jika hanya saya sendiri yang menjadi vegan, apakah akan memberikan dampak yang berarti?


Menjadi vegan mempunyai efek yang sangat nyata terhadap kurva permintaan - kebutuhan. Bayangkan, 1 orang membeli bahan protein alternatif dari produk daging, setiap hari, 3x sehari, selama 1 tahun. 1 orang ini sudah mengurangi secara signifikan untuk kebutuhan 1 orang. Nah lalu bayangkan, jika kita kombinasikan angka tersebut kepada puluhan juta vegan yang ada di dunia ini.. Ini akan menjadi ancaman serius bagi para industri tersebut. Dan di saat yang bersamaan, sudah pasti akan memunculkan produsen baru untuk protein alternatifnya. Ini adalah hal yang terjadi dalam 10 tahun terakhir di berbagai negara: Negara dan Tren Vegan/Plant-based Inggris Raya: Dalam 10 tahun terakhir, jumlah vegan naik sebanyak 360%. Dibanding 2018, sales 2019 produk kategori “Plant-based” naik 1500%. Amerika Serikat: Dari 2014 ke 2017, jumlah vegan naik dari 1% ke 6% (dari total populasi). Sales dari industri susu telah turun sampai 50% jika dibandingkan dengan tahun 1980. Australia:10% populasi mengkonsumsi pola makan “plant-based”. Italia: Menurut Euromonitor, dari tahun 2011 ke 2016, populasi vegetarian dan vegan naik 94%. Portugal: Dari tahun 2007 ke 2017, populasi vegetarian dan vegan naik 400% Cina: Menteri Kesehatan di Cina membuat pedoman makan baru yang meminta konsumen untuk mengurangi konsumsi daging sampai 50% Semua indikator ini menunjukkan bahwa pola makan vegan atau plant-based semakin berkembang. Dan jika kita ingin vegan betul-betul memberikan dampak di bumi ini, maka tidak ada cara yang lebih baik daripada menjadi bagian dari gerakan itu sendiri.




Apa yang salah dari susu?


Untuk menyusui, pertama sapi harus hamil. Biasanya, sapi betina akan diikat dan di saat yang bersamaan, peternak sapi akan memasukkan tongkat besi berisi sperma secara paksa ke dalam organ reproduktifnya. Dan lalu saat sudah melahirkan, peternak akan saat itu juga memisahkan si anak dari ibunya. Bayangkan.. Ibu yang mengandung selama 9 bulan, tidak bertemu dengan sang anak. Jika anaknya adalah sapi jantan, maka ia akan dijual untuk menjadi “daging”, atau di negara barat biasanya sapi jantan akan dibuat malnutrisi sampai berumur 6 bulan, lalu dijual sebagai “veal”. Bayangkan.. Sapi jantan yang berumur 6 bulan sama dengan anak yang baru berusia kurang dari 10 tahun. Lalu, sang ibu akan diperah memakai mesin 4x sehari sampai pada saatnya sapi betina ini tidak bisa lagi produktif. Di titik ini, banyak dari sapi betina yang mengalami osteoporosis atau kerapuhan tulang, karena cadangan kalsium nya sudah habis. Jika sampai pada titik ini, sang ibu akan dibawa ke tempat penjagalan untuk menjadi “daging”. Biasanya ini terjadi saat sang ibu berumur 5 tahun. Kemudian, siklus tersebut akan diteruskan oleh anak perempuannya.




Apa yang salah dari telur?


Hanya ayam betina yang memproduksi telur, jadi semua itik jantan dianggap sebagai limbah oleh industri telur. Pilihannya 2, satu dibuat mati dengan cara dimasukkan ke dalam plastik sampah yang diikat sehingga tidak ada udara atau digiling hidup-hidup saat usia mereka baru 1 hari. Saat ayam betina mencapai umur kurang lebih 2 tahun, produktifitas mereka akan menurun sehingga mereka akan dibawa ke tempat penjagalan untuk menjadi “ayam potong” sehingga generasi berikutnya dapat melanjutkan siklus tersebut.




Apa yang salah dari bahan bulu, wool dan kulit?


Bersamaan dengan industri daging dan susu, industri bulu, wool, dan kulit bertanggung jawab terhadap 99% penyiksaan dan penderitaan yang terjadi kepada hewan. Profit dari industri ini akan digunakan untuk mengembangbiakkan lebih banyak hewan ternak dan hewan lainnya, sehingga siklus nya tidak akan terputus. Di jaman modern ini, hampir mustahil untuk tidak berhubungan dengan bahan yang tidak berasal dari hewani. Jadi cara tercepat dan paling praktis untuk menghilangkan penyiksaan hewan ini adalah dengan memboikot atau tidak membeli bahan-bahan ini. Salah satu alasan mengapa bahan berbasis hewan dipakai di begitu banyak hal adalah karena begitu banyaknya “produk limbah” dari industri hewan berupa tulang, otak, usus, kulit, dan lain-lain. Sehingga secara ekonomi sangat masuk akal untuk menggunakannya. Mengurangi produksi dari 1 produk hewani, dan memboikot industri hewan yang lain, akan membuat produk limbah ini kehilangan relevansinya.




Nenek moyang kita mengkonsumsi binatang. Mengapa kita harus menjadi vegan?


Nenek moyang kita melakukan banyak hal yang kejam dan sering kali tidak masuk akal, seperti saling membunuh, memakai ilmu hitam untuk menyantet, dan mengorbankan manusia untuk suatu acara dan lainnya. Melandaskan moral kita kepada nenek moyang tidak akan membawa kita jauh ke peradaban yang lebih baik. Walaupun betul nenek moyang kita mengkonsumsi hewan, sekarang kita ada di jaman dan dunia yang sangat berbeda. Karena padat kalori, dulu daging menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan hanya dimakan sesekali, sisanya mereka petik dari pohon atau cabut dari tanah. Di jaman modern ini, daging tidak lagi menjadi suatu keharusan untuk bertahan hidup. Ditambah lagi, banyak peneliti yang sependapat bahwa bukan daging yang membuat otak kita berkembang, tetapi dari penemuan api dan dapat menggunakan cara masak yang menggunakan api. Ini menjelaskan bahwa kita adalah “hewan” tercerdas sedangkan binatang yang lebih karnivora seperti kucing tidak secerdas kita. Hipotesanya adalah memasak makanan membuat kita mendapatkan lebih banyak energi dari volume makanan yang sama sehingga kita lebih memiliki energi untuk memompa pertumbuhan otak.




Apakah beer dan wine termasuk vegan?


Banyak beer dan wine yang masuk dalam kategori vegan. Jika ingin mengetahui apakah jenis beer dan wine yang anda minum termasuk vegan atau tidak silahkan cek di Barnivore.com




Apakah hewan peliharaan saya, anjing dan kucing, bisa menjadi vegan?


Banyak orang memberikan anjing dan kucing mereka buah segar, seperti melon, pepaya, pisang dan apel. Sayuran seperti kacang panjang, wortel, dan ubi. Biji-bijian seperti barley dan oat. Atau superfood seperti spirulina, nutritional yeast dan nori. Banyak, tapi tidak semua, anjing dan kucing dapat sehat dan cocok saat melakukan pola makan vegetarian. Jadi, tolong dipantau apakah pola makan yang baru ini memunculkan gejala seperti masalah kulit dan pencernaan, jika itu terjadi pola makannya harus disesuaikan, atau dikembalikan ke yang lama.
Untuk transisi yang lebih gentle, mulailah dengan mencampur vegetarian pet food seperti Dog ‘Njoy atau resep vegan pet food dari buku Dr. Pitcairn’s Complete Guide to Natural Health for Dogs and Cats dengan makanan pet-food berbasis daging. Perlahan naikin porsi vegetarian pet food nya dan turunkan pet food berbasis daging dalam kurun waktu 1-2 minggu.




Dimanakah saya bisa menemukan komunitas vegan?


Online, ataupun offline. Ada banyak meetup group dan juga setiap restoran yang bergerak di area plant-based juga biasanya memiliki komunitas masing-masing.




Ada berapa banyak orang vegan/vegetarian yang ada di Indonesia?


Tidak ada jurnal ataupun informasi yang terupdate mengenai pertanyaan ini. Yang pasti Indonesia masuk di urutan dunia ke-16 sebagai Negara Ramah Vegetarian.




Apakah vegan sama dengan agama?


Semua informasi tentang vegan berdasarkan fakta dan berbasis bukti. Agama berdasarkan kepercayaan. Banyak orang yang sudah berpikir bahwa menyebabkan penderitaan bagi mahluk hidup lain adalah suatu tindakan yang salah. Menjadi vegan adalah menyamakan perilaku pribadi kita dengan nilai tersebut.





IKUTI KAMI:

  • Instagram

DIDUKUNG OLEH: